27th Future


Aku sedang memperhatikan wanita yang saat ini sedang menatap anaknya dengan hangat. Aku hanya membayangkan diriku sudah seusianya. Yah... hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tidak ada pesta perayaan, hanya sebuah makan siang sederhana di restoran Italy kesukaannya.

“Kau menatapku terlalu lama.” katanya membuatku terkesiap.

“Oh.. ehm... benarkah?” jawabku gelagapan.

“Apa yang kau pikirkan tentangku?” tanyanya. Sesekali ia masih menatap anaknya yang tertidur pulas dalam dekapannya.

“Bukankah kau lebih tahu isi kepalaku?” Dia tertawa. Yah dia selalu seperti itu. Aku rasa hobinya adalah menertawakanku.

        “Berhentilah tertawa, Sab.”

“Oh maafkan aku.” Dia diam sejenak. Seolah ia sibuk dengan dunianya sendiri saat bayi yang ada didekapannya itu mulai mengerjapkan matanya. Bayi kecil yang ada didekapannya itu menggeliat pelan.

“Sab... bagaimana perasaanmu?” Oke, aku rasa pertanyaanku sedikit aneh.

“Maksudmu, perasaanku saat ini? Hem... aku sangat bahagia. Ya, seperti itu. Seolah hidupmu berasa sempurna.”

“Kau yakin?” Dia mengangguk pasti. “Aku ingin sepertimu nanti. Di usia yang ke-27 dan kau sudah mempunyai keluarga kecil yang bahagia.”

“Jangan seperti diriku. Jadilah dirimu sendiri.”

Aku berdecak pelan. Aku benci dengan dirinya yang melontarkan kata-kata yang sangat membosankan. Tidak bisakah ia mengatakan hal-hal yang bisa membuatku lebih bersemangat dan bahagia? Kau payah untuk hal ini Sab.

“Apa kau ingin menikah sekarang?” tanyanya padaku. Pertanyaan konyol macam apa yang ia lontarkan saat ini? Aku ingin seperti dirinya bukan berarti aku akan menikah secepatnya. Dasar.

“Tidak. Dengar, Sab, aku ingin sepertimu saat diriku berusia sama denganmu. Aku rasa usia 27 tahun adalah masa keren untuk menggendong seorang bayi.”

“Tidak harus menunggu kau berusia 27 tahun. Kau bisa melakukannya sekarang.” Dasar gila, Sab benar-benar gila.

“Lupakan tentang hal itu. Usiaku baru 23 tahun asal kau tahu. Aku masih fokus pada karir dan bisnisku. Jangan pernah kau menyuruku menikah secepatnya seperti ibuku. Aku membencinya.”

Sab tertawa keras hingga bayi kecil itu menatap mamanya heran. “Baiklah, Ly. Aku mendukungmu dan tidak akan menanyakan hal itu lagi.”

“Itu bagus.” Aku terdiam, menatap jalanan kota London yang memasuki musim panas. “Sab, selamat ulang tahun.” Teman baikku itu tersenyum dan mengatakan terima kasih padaku. Aku bangga mempunyai teman sepertinya. Entah karena apa. Aku tak tahu. Yang aku tahu ia adalah temanku satu-satunya di kota ini.

--


Ini hanya cerita fiksi yang aku tulis untuk tantangan dari Mbak Sabrina yang telat pakai banget. Disamping kemarin habis UAS dan disibukkan dengan banyak hal, dan sekarang sedang sakit yah... maafkan aku yang tak sempurna. Hehehe. Semoga tulisanku berkenan untuk Mbak Sabrina.


#tantanganODOP

Pati,  25 Mei 2017


April Cahaya



0 comments:

Post a Comment