Home
/ Secuil Catatan
Showing posts with label Secuil Catatan. Show all posts
Showing posts with label Secuil Catatan. Show all posts
Saatku Merasa Sendiri
Saatku merasa sendiri...
Seolah dunia mundur perlahan, atau mungkin maju terlalu cepat. Mungkin seperti itulah yang aku rasakan ketika diriku merasa dijauhi, merasa diabaikan. Seakan ada tembok tipis yang mulai menebal, seakan ada sekat yang tak mampu aku tembus.
Entahlah... Terkadang aku merenung. Apakah aku orang yang menyebalkan? Apakah aku kurang asyik diajak bicara? Ataukah aku yang memang tak pantas bersama mereka?
Saatku merasa sendiri...
Dunia ini hanya sunyi. Karena ucapanku tak pernah berbalas, pesan tiada terbaca atau mungkin terlewat. Aku seperti sebuah bingkai tak bergambar yang terabaikan. Seperti bingkai tanpa lukisan yang kosong tak menarik sama sekali.
Saatku merasa sendiri...
Suaraku pun terasa seperti desauan angin yang terdengar. Seperti uap yang lenyap begitu saja.
Bisakah aku terlihat? Bisakah sekali saja aku terdengar? Bisakah?
#OneDayOnePost
Pati, 03 Mei 2017
April Cahaya
Kisah yang Tak Mampu Aku Sampaikan
Pada sebuah kisah yang tak mampu aku sampaikan. Kisah yang tak mampu aku ceritakan. Terkubur dalam sebuah peti rahasia yang tertanam di dasar hati.
Tentang sebuah perasaan yang tak sampai. Sebuah perasaan yang tak mampu menyentuh hatinya.
Ku ingin mengucapkan sebuah kata cinta, tetapi mulut kaku tak bergerak. Ku ingin tuliskan penuturan cinta yang tak mampu aku ucapkan, tetapi tangan membeku bagai es.
Salahkah aku yang seperti ini? Tidakkah kau sadar akan satu hal janggal saat aku bersamamu? Tidakkah kau merasakan suaraku yang bergetar? Tidakkah kau mendengar suara detak jantung yang berdebar keras? Tidakkah kau sadar mataku yang tak bisa menatapmu lama-lama?
Karena aku jatuh cinta. Sebuah kisah yang tak mampu aku ceritakan padamu adalah kisah tentang bagaimana bisa aku jatuh cinta pada laki-laki sepertimu.
#ODOP
Pati, 27 Maret 2017
April Cahaya
Menikah Itu Niatnya Untuk Ibadah
Siang itu, tepatnya saat jam
istirahat. Para mahasiswi semester enam sedang menikmati makan siangnya. Kami
saling berbincang-bincang ria dan berbagi lauk-pauk dari bekal yang kami bawa. Maklumlah
dalam rangka ngirit ya begitulah, lagian hemat itu pangkal kaya lho. Daripada kita
bingung mau jajan apa waktu istirahat siang lebih baik bawa bekal sendiri kan
dari rumah.
Pembicaraan dimulai dari berbagi
cerita tentang masakan. Ya ini memang kumpulan ibu-ibu dan calon ibu-ibu. Jadi
wajarkan kalau obrolannya tentang dunia masak-memasak.
“Ini lho mbak kalau mau minta, tadi
aku masak oseng daun pepaya.” salah satu temanku menawariku masakannya. Aku
berdiri dengan segera tak lupa membawa tempat makan dan sendokku.
“Mau dong mbak, pahit tidak?”
tanyaku antusias. Kata orang memasak daun pepaya itu kalau tidak pinter rasanya
jadi pahit. Ada cara-cara tertentu agar rasanya tidak pahit. Entahlah aku tak
tahu bagaimana caranya, lain kali bisalah dicoba.
“Coba dulu lah mbak.”
“Sedikit pahit mbak, tapi enak kok.”
komentarku kemudian menyendok oseng daun pepaya dan menaruhnya ke dalam tempat
makanku. Kami mulai asyik sendiri menikmati bekal makan siang kami hari ini.
Topik pembicaraan lain pun mulai
mengalir. Ceritanya salah satu teman kami akan melangsungkan pernikahannya
minggu depan. Seperti biasa lah namanya juga ibu-ibu dan mbak-mbak sukanya
malah ngegosip ria. Aku sendiri tenggelam dalam duniaku yaitu handphone. Aku sibuk
chating dengan temanku berdiskusi tentang blog. Yah namanya lagi belajar
nge-blog ya serasa masih gagap gitu kan. Perlu belajar perlahan agar lihai
menggunakan blog.
“Itu lhoh mbak, dulu katanya dia
tidak mau menikah sama orang sini. Eh kok akhirnya dapatnya orang sini juga
kan. Yang dicari apa to, harus kaya gitu?” salah satu temanku berkomentar.
“Ya yang berduit itu penting kalau
ganteng tapi tidak punya duit ya percuma. Emangnya hidup itu tidak butuh duit. Kalau
perlu ya cari suami itu yang kaya dan anak terakhir. Kebayang kan kalau anak
terakhir warisannya dapat banyak.” sahut yang lainnya. Dalam hati cuma bisa
mengucapkan istighfar. Ini juga mata habis makan malah ngantuk bener padahal
masih ada dua mata kuliah lagi.
“Suaminya pegawai bank kan? Tapi
masih kontrak dan sekarang masa kontraknya sudah mau habis. Nah kalau habis
menikah sudah tidak kerja lagi bagaimana? Lha kacau dong. Tidak cocok itu.”
“Makanya cari suami itu yang sudah
diangkat pegawai tetap bukan magang ataupun kontrak.”
“Tapi jaman sekarang kan susah cari
kerjaan yang bisa tetap mbak.”
Obrolan masih berlangsung dan aku
tidak perlu menyebutkan satu-satu siapa saja yang masuk dalam obrolan ini kan? Karena
ada lima orang lebih yang nimbrung. Seandainya saja laptopku baterainya tidak
habis pasti enakan nonton film daripada mendengarkan obrolan mereka. Ini
termasuk ghibah kan? Dosa lhoh.
“Dia itu mencari suami yang punya
mobil.”
“Halah punya mobil kalau kredit ya
percuma. Terus misal lamaran sepeda motor kredit juga. Lha habis menikah malah
bangkrut dong.”
“Mbak pacarmu kerja di pelayaran
kan? Tidak enak lhoh kalau pas ditinggal kerja.”
“Terus aku carinya yang bagaimana
mbak?”
Dan seterusnya obrolan masih
seputar dengan siapa nantinya mereka akan menikah. Sebagian besar sudah
mempunyai pacar sih, tapi entahlah mereka masih ribut dengan hal itu. Disela-sela
obrolan mereka akhirnya aku angkat bicara.
“Menikahlah dengan niat untuk
ibadah. Tak perlu persyaratan yang muluk-muluk pilihlah yang agamanya baik.” setelah
mengatakan itu aku berdiri mengambil mukena di dalam tas berniat untuk sholat dhuhur.
Seketika mereka diam tidak
melanjutkan obrolan mereka.
“Wah kata-katanya mbak April
sederhana tapi ngena banget di hati. Setuju banget mbak.” kata teman yang
duduknya tepat dihadapanku. Aku menanggapinya dengan senyuman.
“Ada yang mau ikut sholat tidak
nih?” tanyaku saat sudah diambang pintu.
“Aku ikut mbak.”
“Maaf mbak kebetulan aku lagi
libur.” jawab temanku yang lain.
Aku dan satu temanku segera
bergegas ke masjid karena ternyata langit siang itu sedikit tidak bersahabat. Mendung
dan rintik hujan sudah turun perlahan. Jika tidak ingin kehujanan ya
cepat-cepat sampai masjid. Aku tidak tahu apakah obrolan mereka tadi akan tetap
berlanjut setelah aku berlalu atau cukup sampai disitu saja. Semoga saja mereka
menyudahi obrolan mereka.
Yang paling menyebalkan hari ini
bukan hanya mendengarkan obrolan teman-temanku yang kurang penting itu tapi jam
kuliah hari ini serasa lama banget. Pengen cepat pulang dan tidur. Udah itu
aja.
#OneDayOnePost
#tantanganbulankedua
April Cahaya
Pati, 28 Maret 2016
Senandung Rindu
Rinduku
pada-Mu yang selalu menghantui hari-hariku. Sekelebat pertanyaan yang selalu
mampir dipikiranku kapankah aku sepenuhnya selalu mengingat-Mu. Aku merindukan
sujud penuh kekusyukan pada-Mu. Berapa lamakah aku telah melupakan-Mu?
Maafkan
aku yang terlalu terlena pada kebahagian semu. Dunia yang menawarkan candu tapi
cepat hilang bagai kabut pagi. Aku lupa bersyukur atas nikmat yang Kau beri.
Aku lupa jika napas ini adalah anugerah-Mu. Aku lupa jika nyawa yang melekat dalam
tubuh ini adalah milik-Mu. Senandung ayat-Mu telah lama tak aku lantunkan.
Telingaku telah tersumbat lagu-lagu barat yang tak sepenuhnya aku mengerti.
Bukankah sholawat-sholawat Nabi lebih baik dari lagu apapun?
Aku
merindukan sujud panjangku di kala semua mata terlelap. Suasana sepi seakan aku
memang benar-benar dekat dengan-Mu. Bahkan do’a yang kupanjatkan dalam hati
serasa menggema dalam hening.
Aku
rindu menatap langit fajar dengan Venus yang tersenyum di ufuk barat. Menyambut
hati yang terasa jernih bagai air pegunungan. Sisa-sisa air wudhu yang masih
membasahi rambut tersapu angin sejuk pagi hari. Sang mentari yang masih malu
untuk menampakkan diri dan bintang-bintang yang berkedip manja. Aku sangat
merindukannya.
Kuingin
kembali pada cahaya-Mu. Hati ini sudah terlalu lama kosong dan banyak terisi
kabut kelabu yang menggusarkan batin. Aku merindukan rasa syukur yang tak
pernah aku pungkiri. Sungguh tiada rindu
yang teramat seperti rinduku pada-Mu.
Wahai
sang pencipta hati, terimalah taubatku. Aku ingin kembali merasakan indahnya
menyembah-Mu, indahnya selalu memuja-Mu, bahagianya bersyukur atas nikmat-Mu.
Teguhkanlah hatiku dari segala duri dan kerikil yang menghalangi jalan menuju
sejuknya angin surga-Mu. Aku tahu di depan sana badai sudah menanti, tapi aku
yakin Engkau tidak akan menenggelamkanku dalam kesesatan.
Pada-Mu
yang selalu aku rindukan.. Ya Allah Ya Rabb..
#OneDayOnePost
April Cahaya
Pati, 22 Maret 2016
SAC #1
Story of April Cahaya
Di kala hujan
itu adalah suasana paling enak untuk menulis. Seakan ide mengalir deras
layaknya air yang turun dari langit. Seperti siang tadi saat aku masih
mengikuti perkuliahan, tangan udah gatel pengen ngetik tapi itu musathil karena
aku harus mendengarkan tutur kata Pak Dosen yang begitu indah tentang ekonomi.
Yah beginilah namanya juga anak Akuntansi dongengnya selalu tentang laporan
keuangan, manajemen perusahaan, modal, aset, utang dan lain-lain. Padahal
idenya tentang cerita romance. ^^
April Cahaya
Pati, 21 Februari 2016
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)


